DARURAT GARAM DAN JEJAK PASOKAN IMPOR PANGAN INDONESIA | RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – SEMARANG, Jika produksi pangan dalam negeri tak cukup untuk memenuhi kebutuhan, maka jalan lain untuk memenuhinya dengan cara mengimpor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip, Jakarta, Kamis (3/8/2017), Indonesia melakukan impor beberapa komoditi pangan, seperti beras khusus, tepung terigu, gula pasir, daging jenis lembu, jenis lembu, garam, mentega, minyak goreng, bawang putih, lada, kentang, cabai kering tumbuk, cabai awet sementara, dan telur unggas.

Jika dijabarkan, berikut daftarnya:

  • Impor beras khusus di Juni 2017 sebanyak 36,3 ribu ton atau US$ 15,8 juta. Angka ini naik jika dibandingkan Mei 2017 yang sebesar 23,2 ribu ton atau US$ 10,0 juta. Jika diakumulasi dari Januari-Juni tahun ini mencapai 130,9 ribu ton setara US$ 65,5 juta, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor tepung terigu di Juni 2017 sebesar 1,8 ribu ton setara US$ 545,5 ribu, angka ini turun jika dibandingkan Mei tahun ini yang sebesar 4,5 ribu ton setara US$ 1,3 juta. Dari Januari-Juni 2017 mencapai 23,2 ribu ton atau US$ 6,9 juta, turun jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor gula pasir di Juni 2017 sebesar 3,7 ribu ton setara US$ 2,5 juta, angka ini turun drastis jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 40,7 ribu ton atau US$ 22,4 juta. Dari Januari-Juni tahun ini jumlahnya 53,9 ribu ton atau setara US$ 30,3 juta, naik jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor daging jenis lembu di Juni 2017 sebesar 11,6 ribu ton setara US$ 39,4 juta. Angka ini naik dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 11,0 ribu ton atau US$ 36,3 juta. Dari Januari-Juni tahun nilainya 75,5 ribu ton setara US$ 265,4 juta, naik jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor jenis lembu di Juni 2017 sebesar 10,9 ribu ton setara US$ 32,4 juta. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 14,3 ribu ton atau US$ 47,2 juta. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 71,3 ribu ton atau US$ 230,8 juta, turun jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor garam di Juni 2017 sebesar 253,8 ribu ton setara US$ 8,1 juta. Angka ini naik jika dibandingkan Mei 2017 yang sebesar 196,2 ribu ton atau US$ 6,8 juta. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 1,1 ribu ton setara US$ 39,5 juta, naik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor mentega di Juni 2017 sebesar 1,3 ribu ton setara US$ 7,8 juta. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 2,1 ribu ton atau US$ 12,0 juta. Dari Januari-Juni tahun nilainya 11,4 ribu ton atau US$ 59,5 juta, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor minyak goreng di Juni 2017 sebesar 1,9 ribu ton atau US$ 2,4 juta. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebesar 2,2 ribu ton atau US$ 2,6 juta. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 16,4 ribu ton setara US$ 18,9 juta, naik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor bawang putih di Juni 2017 sebesar 90,9 ribu ton setara US$ 109,9 juta. Angka ini naik jika dibandingkan Mei 2017 yang sebesar 36,6 ribu ton atau US$ 61,5 juta. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 251,8 ribu ton setara US$ 311,0 juta, naik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor lada di 2017 sebesar 23,1 ton setara US$ 141 ribu. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 96,6 ton atau US$ 240,2 ribu. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 599,0 ton atau US$ 3,2 juta, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor kentang di Juni sebesar 6,9 ribu ton atau US$ 3,0 juta. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 8,8 ribu ton atau US$ 4,0 juta. Dari Januari-Juni di 2017 nilainya 35,6 ribu ton atau US$ 15,9 juta, naik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor cabai kering tumbuk di Juni 2017 sebanyak 2,6 ribu ton atau US$ 3,1 juta. Angka ini turun jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 3,5 ribu ton atau US$ 4,4 juta. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 25,2 ribu ton setara US$ 31,3 juta, naik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor cabai awet sementara di Juni 2017 hanya 83,5 ton setara US$ 120,2 ribu. Angka ini naik jika dibandingkan Mei 2017 yang sebanyak 82,6 ton atau US$ 112,8 ribu. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 422,9 ton atau US$ 608,9 ribu, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
  • Impor telur unggas di Juni 2017 sebesar 610 kg setara US$ 12,4 ribu. Angka ini naik tinggi lantaran di bulan sebelumnya tidak ada kegiatan impor telur unggas. Dari Januari-Juni 2017 nilainya 34,1 ton atau US$ 2,5 juta, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Meski Indonesia punya garis pantai kurang lebih sepanjang 81.000 kilometer (km), tak semua wilayah laut tersebut bisa dijadikan tempat produksi garam yang optimal. Beberapa faktor sangat mempengaruhi produktivitas garam seperti curah hujan, kelembaban udara, suhu, angin, dan kadar garam di air laut.

“Produksi garam kan sangat tergantung cuaca, tingkat curah hujan, temperatur, angin, kelembaban, dan lainnya. Kalau curah hujan dan kelembaban tinggi, itu akan menghambat proses evaporasi (penguapan), menjadikan air laut jadi air tua (bahan baku garam) menjadi agak lambat. Ini membuat produktivitas petambak garam rendah,” kata Kepala Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Riyanto Basuki.

Selain itu, lanjut dia, pengelolaan garam yang masih dilakukan tradisional juga membuat produksi garam lokal masih kurang optimal, baik dari sisi kebersihannya maupun volumenya. Hal ini berbeda dengan produksi garam di Australia yang sudah menggunakan mekanisasi lewat alat-alat modern.

“Indonesia sifatnya masih padat karya. Indonesia tak bisa dibandingkan dengan Australia, karena mereka sudah mekanisasi, lebih tepatnya membandingkan dengan India yang sama-sama petambak rakyat atau padat karya,” ujar Riyanto.

Lanjut dia, skala luas lahan produksi garam di oleh petambak garam yang masih kecil juga berkontribusi pada panen garam kurang maksimal

“Sama seperti kasus di pertanian, pasti kendalanya lahan sempit yang terfragmentasi kecil-kecil. Hitung-hitungan rata-rata lahan tambak garam di Indonesia itu hanya 0,5 sampai 0,75 hektar,” terang Riyanto.

Kepemilikan lahan yang sempit ini coba diatasi KKP lewat program pusat usaha garam rakyat (Pugar). Di mana kawasan tambak garam yang terfragmentasi tersebut terhubung melalui jalan produksi dan irigasi yang dibangun pemerintah. Sehingga meski lahan tambak garam berskala kecil, namun semuanya terintegrasi dalam satu kawasan.

Diungkapkannya, selain peningkatan produktivitas, perlu ada gudang garam dalam skala besar untuk mengamankan pasokan garam saat terjadi kelangkaan seperti sekarang ini.

“Memang perlu banyak gudang garam, karena sekarang ini kurang. KKP sendiri sekarang mulai bangun gudang-gudang besar untuk garam. Gunanya untuk mengantisipasi saat terjadi paceklik. Ini sudah mulai sejak 2 tahun lalu dengan sistem resi gudang,” kata dia.

Menurutnya, gudang garam sebenarnya tak jauh berbeda dengan gudang beras sebagaimana yang dimiliki Perum Bulog. Hanya beberapa modifikasi yang diperlukan, yakni dibuat saluran untuk menampung garam yang mencair.

“Memang gudangnya khusus, tapi modelnya sama seperti di Bulog. Yang berbeda perlu dibuat parit-parit manakala ada pencairan garam,” ujar Riyanto.

Kebutuhan mendesak impor garam

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Darmin Nasution, menyebut keputusan pembukaan impor garam 75.000 ton dilakukan lantaran dianggap sudah sangat mendesak. Namun kebijakan impor selanjutnya, perlu dikaji lebih mendalam, terutama terkait pangkal penyebab kelangkaan.

“Yang penting selesai dulu urusan kebutuhan kebutuhan yang sudah terlanjur kurang, tapi pada saat yang sama kita harus mulai melihat apa yang salah soal garam ini,” ucap Darmin.

Meski tak menampik karena faktor cuaca, perlu ada perbaikan teknologi pada tambak-tambak rakyat garam saat ini. “Itu pasti kemampuan teknologi petaninya ada yang perlu dibetulkan. Teknologi berproduksi rakyat kita terutama di Madura masih seperti dulu, padahal sudah pakai membran supaya lebih bersih,” pungkasnya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s