ATC, TANTANGAN, HAMBATAN DAN PROBEMATIKA

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – SEMARANG, bulan puasa ini setidaknya ada dua teman saya bercerita tentang pengalamannya yang “mengerikan” saat akan mendarat diBandara Soekarno Hatta International Airport ( SHIA) Cengkareng.

Berita yang sama tentang pengalaman seorang penumpang yang ketakutan saat pesawat membatalkan pendaratan dan naik kembali.

Mengenai hal ini sebenarnya saya sudah menurunkan tulisan di koran Kompas pada tanggal 19 Nopember 2011 halaman 1 dengan judul “Bom Waktu di SHIA”.

Pada intinya adalah dunia penerbangan Indonesia sejak tahun 2000-an yang pertumbuhan penumpangnya sangat pesat ternyata tidak diikuti dengan baik oleh ketersediaan infrastruktur dan kesiapan sumber daya manusia bidang penerbangan.

Khusus mengenai banyaknya cerita yang dramatis tentang pengalaman penumpang saat pesawat terbang membatalkan pendaratan, maka dapat ditengarai sebagai akibat dari padatnya trafficpenerbangan di SHIA.

Realitanya di Jakarta ini traffic padat untuk take off dan landing tidak hanya terjadi di SHIA akan tetapi juga di Halim Perdanakusuma. Kepadatan traffic pesawat terbang yang sudah terjadi pada era 10 tahun belakangan ini harus diakui belum dapat diatasi dengan baik, walau sudah terlihat upaya yang cukup serius yang dilakukan.

Solusi yang diterapkan belum menyentuh benar pada akar masalah. Traffic yang sudah terlanjur padat sekali di SHIA dipindahkan begitu saja ke Halim yang akibatnya justru keduanya kini menjadi mengalami kepadatan traffic yang luar biasa.

Sekali lagi sepertinya terlihat pertumbuhan penumpang dikelola tanpa imbangan yang memadai dari ketersediaan unsur pendukung penerbangan sipil komersial berupa infrastruktur dan SDM.

Sekadar contoh sedikit analisis tentang traffic di SHIA. Jarak minimum antara dua pesawat yang akan take off dan/atau landing adalah 5 Nautical Miles (Nm).

Kecepatan atau speed pesawat terbang saat akan mendarat lebih kurang 150 Knots. Dengan demikian maka rata-rata separasi jarak 5 Nm tersebut akan membutuhkan waktu kurang lebih 2 menit.

Itu berarti setiap runway (RWY) akan dapat melayani dengan aman 30 pesawat take off / landing dalam satu jam. Karena di SHIA terdapat 2 buah RWY, maka pesawat yang dapat dilayani adalah sebanyak 60 pesawat take off dan/atau landing dalam satu jam.  Ini adalah ukuran baku atau standar yang memenuhi “safety factor ” di SHIA.

Dengan memperhitungkan penanggulangan bila terjadi emergency, keadaan darurat dan penerbangan yang tidak terjadwal serta pertimbangan cuaca, maka sebaiknya angka 60 itu dikurangi 10 persen agar tidak terjadi kesemrawutan bila muncul hal yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Dari hitung-hitungan seperti itu, maka diperoleh angka lebih kurang 54 atau 56 gerakan take off/ landing pesawat terbang di SHIA. Ini adalah perhitungan kira-kira yang mengacu kepada hitungan baku atau standar keamanan terbang yang dapat dilakukan di SHIA dengan fasilitas 2 RWY dan ketersediaan SDM ATC (Air Traffic Controller) yang ada.

Konon di Changi, mereka mengelola kapasitas RWY sekitar 28 gerakan per jam, jadi untuk 2 RWY dengan mempertahankan alur dua menit separasi, mereka dapat melayani 56 take off / landing dalam satu jam.

Khusus di SHIA, karena pertumbuhan penumpang yang dikelola terus menanjak, maka diusahakan untuk dapat meniru Heathrow yang mampu melayani hingga 40 take off / landing setiap jamnya yang berarti dapat memfasilitasi 80 take off / landing dengan 2 RWY yang tersedia.

Kemungkinan besar ambisi inilah yang hendak dicapai sehingga trafficdi SHIA menargetkan separasi tidak 2 menit akan tetapi menjadi 1,5 menit.

Kepadatan ini agak sulit untuk dapat dilakukan tanpa tersedianya sarana pendukung yang dibutuhkan. Misalnya saja di Heathrow, RWY nya di lengkapi dengan “rapid exit taxi way”, yang memungkinkan pesawat terbang yang landing dapat lebih cepat keluar landasan.

Dalam hal ini manajemen gerakan pesawat didarat dalam konteks take off / landing telah dikelola dengan sangat efisien agar dapat dengan mudah mengejar separasi yang hanya 1,5 menit. Sebuah hal yang tidak tersedia di SHIA.

Tahun lalu saya mendengar SHIA sudah digenjot untuk mampu melayani 70 hingga 72 pesawat terbang take off / landing dalam satu jam, yang konon akan ditingkatkan lagi hingga 76 atau 78 take off / landing per jam.

Dapat dibayangkan dengan infrastruktur dan sarana yang ada, maka keahlian petugas ATC dan Keterampilan Pilot akan menjadi taruhannya.

Sekali lagi ini adalah hasil dari pertumbuhan penumpang yang sangat pesat yang telah bergerak sejak kurun waktu 15 – 10 tahun lalu . Pertumbuhan yang tidak diiringi dengan seimbang dalam hal ketersediaan infrastruktur dan SDM penerbangan.

Belum lagi secara organisasi ATC kita pun baru saja mengalami perbaikan dari beberapa institusi yang dilebur menjadi satu (ATC single provider) dengan tampilan sebagai LPPNPI (Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia) atau Indonesia AirNAv.

Hal ini membuat proses pemecahan masalah menjadi tidak mudah untuk dapat segera dilaksanakan di lapangan.

Salah satu terobosan yang kiranya dapat membantu untuk memperoleh solusi yang terbaik adalah dengan membangun sistem ATFM, Air Traffic Flow Management. Dengan ini dimaksudkan dapat dimulainya pembenahan sistem Air Traffic dengan memperhitungkan secara menyeluruh dalam satu paket pengaturan sejak pesawat bergerak di darat hingga titik tujuan.

Gerakan pesawat di darat, “ground movement”, pengaturan “air space” yang menyangkut prosedur keberangkatan dan kedatangan serta alur penerbangan atau “air-ways” sudah waktunya dilebur dalam satu sistem pengaturan yang terpadu dan di-support oleh peralatan dan teknologi yang memadai.

Disisi lain, masukan dari petugas ATC di lapangan dan keluhan para pilot dalam menghadapi kepadatan traffic perlu pula untuk didengar dalam konteks proses pengambilan keputusan terutama dalam hal sampai seberapa banyak jumlah take off / landing per jam dapat dikerjakan bersama di SHIA dengan faktor keselamatan yang tinggi derajatnya.

Dengan demikian diharapkan tidak akan muncul lagi keluhan para penumpang yang mengalami ketakutan saat mendarat di SHIA seperti yang dilansir berita kemarin.

Saya menaruh respek dan salut bagi semua petugas ATC dan para pilot kita yang sampai dengan sekarang ini dapat survive menghadapi tantangan berat dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari belakangan ini.

Mereka orang-orang yang penuh dedikasi dalam bekerja di tengah-tengah keterbatasan yang dihadapinya. The show must go on, akan tetapi faktor keselamatan penerbangan harus tetap menjadi prioritas utama.

Pesawat Garuda Indonesia GA 425 rute Bali-Jakarta melakukan go-around dan batal mendarat karena ada pesawat Sriwijaya Air saat sedang bersiap untuk mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (18/6/2017) malam.

Go-around adalah manuver pesawat yang membatalkan pendaratan saat mendekati landasan  kemudian menanjak lagi karena suatu sebab. Dalam dunia penerbangan, go-around sering terjadi dan menjadi peristiwa wajar serta menjadi bagian dari standar keamanan penerbangan.

Dalam peristiwa go-around pesawat Garuda GA 425 tersebut, prosedur menghindari bahaya telah berhasil dilakukan berkat sigapnya pilot Garuda yang dipandu petugas Air Traffic Controller (ATC) yang batal mendaratkan pesawat.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto, menjelaskan bahwa keberadaan pesawat Sriwijaya Air di landasan karena ada masalah teknis.

“Pesawat Sriwijaya Air SJ 580 Jakarta-Makassar harusnya take off tapi kemudian batal karena alasan teknikal,” kata Novie kepada Kompas.com, Senin (19/6/2017).

Novie menegaskan, apa yang dilakukan oleh petugas ATC, pilot Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air, sudah sesuai prosedur.

Mereka juga dinilai cekatan mengabarkan kondisi di lapangan kepada petugas ATC dan melaksanakan instruksi untuk go-around(pembatalan pendaratan) dengan cepat sehingga tabrakan pesawat bisa terhindar.

“Apa yang dilakukan oleh AirNav, pilot Garuda dan Sriwijaya sudah sesuai dengan standar operasi prosedur (SOP),” ujar Novie singkat.

Sebelumnya, salah seorang warganet bernama Louisa Tuhatu menceritakan pengalamannya berada di pesawat Garuda yang batal landing tersebut di akun Facebook.

Cerita itu dibenarkan oleh pihak Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia saat dikonfirmasi Kompas.com pada Senin (19/6/2017) siang.

We were approaching Soekarno-Hatta airport, sky was clear. As the aircraft begun to descend, I could hear the landing gear was pushed down. Couple of moment later, just before touch down, the nose of the Airbus A330-300 turned into upward direction in high speed. The landing gear was retracted and the aircraft flew away from Jakarta to the Java Sea. I panicked, I could feel the eerie silence inside the cabin,” demikian penggalan cerita pemilik akun Facebook bernama Louisa Tuhatu, mengawali ceritanya pada Minggu malam.

Louisa melanjutkan, sepuluh menit setelah pesawatnya tidak jadi mendarat, pilot mengabarkan bahwa dia membatalkan pendaratan karena masih ada pesawat di runway.

Louisa pun mempertanyakan mengapa petugas tower atau pusat kendali mengizinkan pesawatnya mendarat ketika masih ada pesawat lain di sana.

Wow!!!! How can the control tower allow an aircraft to land when the runway is not clear! Thank God we have senior pilots who made the right decision in split second,” ujar Louisa lagi dalam ceritanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s