ANTIBIOTIK BAIK KETIKA TEPAT DIGUNAKAN

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – SEMARANG, Begitu sakit, langsung minum antibiotik. Tindakan semacam ini sejatinya tidak bijak dan tidak tepat, sebab dapat memicu resistensi antibiotik. Selain itu, pakar mengingatkan bahwa resistensi antibiotik tidak hanya terjadi akibat konsumsi obat yang keliru.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), mengungkapkan di dalam tubuh manusia terdapat sekitar 90 triliun bakteri yang beberapa di antaranya sebenarnya sudah mengalami resistensi atau kekebalan. Di antaranya dari konsumsi obat-obatan sebelumnya, bisa dari resep dokter atau akibat membeli sendiri.

dr Hari mengakui masih banyak dokter yang tidak memahami betul tentang penggunaan antibiotik yang tepat. Di sisi lain, masyarakat awam juga terbiasa membeli obat sendiri di apotek. Bahkan dr Hari menambahkan, kurangnya pemahaman akan konsumsi antibiotik yang tepat juga terjadi di luar negeri.

“Belanda adalah satu-satunya negara di dunia yang konsumsi antibiotiknya sangat kecil. Jangan bedakan anak Indonesia dengan anak londo (bule, red) karena sama saja. Kalau di Indonesia, mungkin udah dikasih antibiotiknya 2, sedangkan di Belanda, anak batuk pilek panas, dikasih sirup turun panas pun nggak. Biarkan saja kekebalannya muncul sendiri,” tandasnya.

Selain interaksi dengan obat, interaksi dengan pasien atau orang yang telah meminum antibiotik juga dapat memicu adanya resistensi antibiotik.

“Memang yang bersangkutan tidak sakit tapi menjadi carrier atau membawa bakteri resisten,” ujar dr Hari dalam Pfizer Press Circle (PPC) tentang Resistensi Antibiotik di Hotel Wyndham Surabaya beberapa waktu lalu.

Ini berarti tim medis seperti dokter maupun perawat juga bisa dianggap sebagai carrier dari bakteri resisten karena keseharian mereka yang akrab dengan antibiotik.

Hal ini diperburuk dengan penggunaan antibiotik dalam industri, seperti pada peternakan ayam, sapi atau babi. Ketika hewan-hewan ini disuntik dengan antibiotik untuk mempercepat pertumbuhannya lalu daging mereka dikonsumsi oleh manusia, itu berarti meninggalkan residu antibiotik dalam tubuh manusia.

“Sama juga dengan air. Kotoran mereka yang masuk ke tanah, lalu air tanahnya diminum, sama juga dengan minum residu antibiotik,” imbuh dr Hari.

Tetapi bukan berarti ini tidak bisa dicegah. Agar siklus perpindahan bakteri resisten ini bisa segera diputus, pasien atau pengunjung rumah sakit yang berinteraksi secara langsung dengan sesama pasien, dokter atau perawat disarankan untuk mencuci tangan sesudahnya.

“Makanya jangan lupa cuci tangan, ganti baju, terutama setelah berada di sarang-sarang antibiotik seperti ICU (Intensive Care Unit), untuk memutus transmisi residu antibiotiknya,” pesan dr Hari.

dr Hari mencatat, dalam sebuah penelitian yang diadakan di RSUD Dr Soetomo Surabaya, 76 persen kasus yang ditangani sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Angka ini hampir setara dengan catatan di skala nasional. Kasus yang tidak tertangani karena kekebalan terhadap antibiotik dulunya hanya 9 persen, namun di tahun 2016 diperkirakan telah melonjak menjadi 66 persen, utamanya di rumah sakit-rumah sakit besar.

Bila ini dibiarkan, dampaknya tak hanya bisa dirasakan dunia kesehatan, tetapi juga ekonomi global. Di dunia kesehatan, digadang-gadang akan terjadi peledakan infeksi yang diprediksi akan berlangsung di tahun 2050.

“Jadi operasinya berhasil, infeksinya yang nggak sehingga ancaman kematiannya tinggi dan biayanya menjadi mahal. Terlebih bakteri ini bisa melintas antarnegara, bisa melalui makanan ataupun orang,” ujarnya.

Belum lagi angka kematian akibat resistensi antibiotik. Sayangnya di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian untuk menghitung angka ini.

“Kalau saya mencari padanan dengan Indonesia, kita ambil Thailand ya. Di sana sudah ada penelitian yang mengungkap angka kematian karena resistensi yang mencapai 38.000 kasus, dengan jumlah penduduk berkisar 70 juta orang. Ini berarti di Indonesia expected death-nya bisa mencapai 135.000 dari total penduduk berkisar 250 juta orang,” pungkasnya.

Urusan obat-obatan memang bukan urusan orang awam. Tetapi tak ada salahnya Anda mengetahui ketentuan untuk mengonsumsi antibiotik dengan benar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Perlu dipahami bahwa ada tiga metode yang memicu munculnya resistensi antibiotik di Indonesia. Pertama, karena overuse (penggunaan secara berlebihan).

Prof Dr dr Usman Hadi, MD, PhD, SpPD-KPTI, Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam RSUD Dr Soetomo, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjelaskan, tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan terhadap berbagai virus maupun bakteri yang sangat hebat.

Akan tetapi antibiotik seringkali masih diberikan kepada mereka yang mengalami infeksi ringan. Padahal bila infeksinya ringan, tubuh akan menyembuhkan dirinya sendiri.

“Jadi kalau cuma infeksi2 kecil maka cukup diberi antiseptik atau pembersih luka maka akan membaik. Tapi kadang-kadang karena kita takut atau pengen cepet sembuh langsung diberi antibiotik,” terangnya dalam Pfizer Press Circle (PPC) tentang Resistensi Antibiotik di Hotel Wyndham Surabaya beberapa waktu lalu.

Kedua, pria yang akrab disapa Prof Usman itu mengungkapkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau misuse, di mana pasien sebenarnya tidak memerlukan antibiotik tetapi diberi antibiotik.

“Misalnya pasien datang dengan demam, padahal sebenernya pasien itu infeksi virus tapi karena dokternya tidak tahu dan untuk mengatasi hal itu, ia tetap diresepkan antibiotik. Memang bisa sembuh, tapi akan terjadi resistensi tadi,” urainya.

Ketiga, under-use (pemberian yang kurang) yaitu ketika pasien membeli obat sendiri di warung, kios atau pasar padahal mereka tidak tahu dosis yang tepat dan seberapa banyak yang harus dikonsumsi.

“Regulasinya sudah ada, bahwa antibiotik itu termasuk obat keras. Dilarang diperjualbelikan tanpa resep,” tegas dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dalam kesempatan yang sama.

dr Hari menambahkan, sederhananya, segala gangguan kesehatan yang dipicu virus tidak akan bisa dibunuh oleh antibiotik. Itu artinya infeksi akibat virus seperti radang tenggorokan, flu, pilek, gondong, demam, demam berdarah, cacar air, campak, atau diare, jangan serta-merta diberi antibiotik.

“Misal sakit dari hari apa, terus dikasih antibiotik. Pas di hari kelima sembuh, kita mikirnya cocok, padahal memang wayahe waras (waktunya sembuh, red). Secara umum, hari ketiga itu biasanya puncaknya sakit, setelah itu gejalanya akan panas atau gejalanya akan berkurang,” timpal dr Hari dalam kesempatan yang sama.

Kendati seseorang bisa sembuh dari sakitnya dengan antibiotik, tetapi sebenarnya di dalam tubuhnya sudah bersemayam bakteri resisten atau menjadi carrier dari bakteri berbahaya tersebut.

Antibiotik tidak disarankan untuk digunakan terlalu lama. dr Hari menegaskan, antibiotik setidaknya dikonsumsi dalam kurun dua minggu saja, atau bila tanda-tanda infeksinya belum juga hilang maka penggunaannya harus segera disetop.

“Masyarakat juga harus cerdas. Boleh bertanya kalau dikasih resep, tanya apa ini antibiotik atau bukan,” pintanya.

Ketika diberi resep antibiotik, pastikan Anda mengonsumsinya sampai habis, bahkan dikatakan tidak boleh putus sama sekali. Jikapun putus, konsumsi harus dimulai dari nol lagi, yang kemudian akan memicu prolong atau penggunaan yang berkepanjangan.

Namun jika tidak dihabiskan, jangan pula dibiasakan menyimpan, apalagi sampai memberikannya kepada saudara atau tetangga yang dirasa mengalami gejala sakit yang sama, sebab ini ada kaitannya dengan ‘penularan’ atau perpindahan bakteri kebal antibiotik tadi.

dr Hari mengingatkan kembali, sejumlah tindakan medis juga bisa dilakukan tanpa antibiotik, seperti operasi caesar, operasi gigi ataupun operasi pengangkatan amandel hingga tumor.

“Kalau diare, minum oralit aja. Saya (bantu, red) caesar juga nggak pernah pakai antibiotik. Paling tak kasih asam mefenamat sama parasetamol sebagai anti sakit, sudah cukup. Habis operasi gigi, kalau dikasih antibiotik, nggak usah diminum gapapa,” pesannya.

Luka pasca tindakan lain seperti operasi pengangkatan tumor juga dijamin cepat pulih jika tidak diberi antibiotik, begitu pula dengan luka bekas sirkumsisi atau khitan, dan luka kecelakaan, yang cukup dibersihkan saja dengan antiseptik.

 

BACA JUGA : PAMIT KONSER, AUREL HILANG 2 HARI DENGAN TEMANNYA | RIFANFINANCINDO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s